Tanah air kita adalah Indonesia. Mencintai Indonesia adalah bagian dari iman. Oleh karena itu, siapa saja yang mengkhianati Tanah Air Indonesia berarti telah kehilangan imannya.

Minggu, 14 Februari 2016

Sejarah Lambang Garuda Pancasila

Sejarah Lambang Garuda Pancasila

Pembuat Lambang Garuda Pancasila
Sepanjang orang Indonesia, siapa tak kenal burung garuda berkalung perisai yang merangkum lima sila (Pancasila)? Tapi orang Indonesia mana sajakah yang tahu, siapa pembuat lambang negara itu dulu?
Beliau adalah Sultan Hamid II, yang terlahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung sultan Pontianak. Sultan Syarif Muhammad Alkadrie. Lahir di Pontianak tanggal 12 Juli 1913.
Sultan Hamid II wafat pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batulayang.
Dalam tubuhnya mengalir darah Indonesia - Arab dan pernah diurus ibu asuh berkebangsaan Inggris. Istri beliau seorang perempuan Belanda yang kemudian melahirkan dua anak –keduanya sekarang di Negeri Belanda. Selain pencipta lambang negara, Syarif yang bergelar Sultan Hamid Alkadrie II dan Sultan ke 8 Pontianak ini juga adalah orang Indonesia pertama yang berpangkat tertinggi di dunia militer, yaitu Mayor Jendral.
Sejarah Kelahiran Lambang Garuda Pancasila sebagai Lambang Negara Indonesia

Setelah Perang Kemerdekaan Indonesia (1945-1949), disusul pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda melalui Konfrensi Meja Bundar pada tahun 1949, dirasakan perlunya Indonesia (pada saat itu masih bernama Republik Indonesia Serikat) untuk memiliki lambang negara. Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II yang ditugaskan Presiden Soekarno untuk merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara; dengan susunan panitia teknis : Muhammad Yamin sebagai ketua, dan beranggotakan Ki Hajar Dewantara, M A Pellaupessy, Moh Natsir dan RM Ng Poerbatjaraka; sebagai panitia yang bertugas menyeleksi usulan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah.

Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M. Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari yang menampakkan pengaruh Jepang.  Rancangan Lambang Negara berupa Garuda Pancasila milik Sultan Hamid II dipilih karena mengacu kepada ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara.

Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS (Republik Indonesia Serikat) Ir. Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Mereka bertiga sepakat mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan "Bhineka Tunggal Ika".Tanggal 8 Februari 1950, rancangan lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan kembali, karena adanya keberatan terhadap gambar burung Garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap terlalu bersifat mitologis.

Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali-Garuda Pancasila. Disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri. AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Dep Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya disetujui oleh Presiden Soekano pada tanggal 10 Februari 1950 dan diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS pada tanggal 11 Februari 1950. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih "gundul" dan tidak berjambul seperti bentuk sekarang ini. Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950.

Soekarno terus memperbaiki bentuk Garuda Pancasila. Pada tanggal 20 Maret 1950 Soekarno memerintahkan pelukis istana, Dullah, melukis kembali rancangan tersebut; setelah sebelumnya diperbaiki antara lain penambahan "jambul" pada kepala Garuda Pancasila, serta mengubah posisi cakar kaki yang mencengkram pita dari semula di belakang pita menjadi di depan pita, atas masukan Presiden Soekarno. Dipercaya bahwa alasan Soekarno menambahkan jambul karena kepala Garuda gundul dianggap terlalu mirip dengan Bald Eagle (Lambang Negara Amerika Serikat). Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara yang mana lukisan otentiknya diserahkan kepada H Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974. Rancangan Garuda Pancasila terakhir ini dibuatkan patung besar dari bahan perunggu berlapis emas yang disimpan dalam Ruang Kemerdekaan Monumen Nasional sebagai acuan, ditetapkan sebagai lambang negara Republik Indonesia, dan desainnya tidak berubah hingga kini.

Sampai sekarang, Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah Pontianak, tanah kelahiran Sultan Hamid II, sang Pencipta Lambang Negara Indonesia.ni. Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950.

Soekarno terus memperbaiki bentuk Garuda Pancasila. Pada tanggal 20 Maret 1950 Soekarno memerintahkan pelukis istana, Dullah, melukis kembali rancangan tersebut; setelah sebelumnya diperbaiki antara lain penambahan "jambul" pada kepala Garuda Pancasila, serta mengubah posisi cakar kaki yang mencengkram pita dari semula di belakang pita menjadi di depan pita, atas masukan Presiden Soekarno. Dipercaya bahwa alasan Soekarno menambahkan jambul karena kepala Garuda gundul dianggap terlalu mirip dengan Bald Eagle (Lambang Negara Amerika Serikat). Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara yang mana lukisan otentiknya diserahkan kepada H Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974. Rancangan Garuda Pancasila terakhir ini dibuatkan patung besar dari bahan perunggu berlapis emas yang disimpan dalam Ruang Kemerdekaan Monumen Nasional sebagai acuan, ditetapkan sebagai lambang negara Republik Indonesia, dan desainnya tidak berubah hingga kini.

Sampai sekarang, Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah Pontianak, tanah kelahiran Sultan Hamid II, sang Pencipta Lambang Negara Indonesia.



Deskripsi dan Filosofi Garuda Pancasila

 Garuda
Garuda Pancasila sendiri adalah burung Garuda yang sudah dikenal melalui mitologi kuna dalam sejarah bangsa Indonesia (Nusantara), yaitu kendaraan Wishnu yang menyerupai burung elang rajawali. Garuda digunakan sebagai Lambang Negara untuk menggambarkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan negara yang kuat.
Mitologi garuda berasal dari kebudayaan Hindu. Garuda digambarkan sebagai manusia burung dengan bulu keemasan, dan memiliki mahkota di kepalanya. Konon ukuran tubuh garuda sangatlah besar sehingga mampu menutupi matahari. Garuda juga sering digambarkan sebagai kendaraan Vishnu. Menurut Mahabarata, konon saat Garuda lahir dari telurnya, bumi gonjang ganjing (seperti waktu sun go kong lahir di film >.<) sehingga para dewa memohon padanya untuk tenang. Garuda adalah anak Kasyapa dan Vinata. Vinata memiliki hutang terhadap Kadru, ibu para ular karena suatu pertaruhan. Untuk menghapus hutang tersebut, Garuda diminta Kadru untuk memberikan obat keabadian yg disebut Amrita padanya.
Garuda kemudian mencuri Amrita dari tempat para dewa. Meskipun para dewa bersatu menghadang Garuda, mereka bukanlah tandinganya. Dalam perjalanan pulang, Garuda bertemu dengan Vishnu, Vishnu berjanji akan memberikan keabadian pada Garuda biarpun tanpa meminum Amrita, sebagai gantinya Garuda menjadi kendaraan Vishnu.
Kemudian Garuda bertemu dengan Indra dan sekali lagi dia mendapat penawaran. Garuda berjanji akan memberikan Amrita pada Indra dan Indra akan memberikan para ular sebagai makanan Garuda. Akhirnya Garuda memberikan Amrita pada para ular untuk menghapus hutang ibunya, setelah Amrita diberikan, Indra turun dari langit, merebut Amrita, dan menghabisi para ular. Sejak saat itu Garuda menjadi rekan para dewa, tunggangan kebanggan Vishnu, sekaligus menjadi musuh utama para ular.
Warna keemasan pada burung Garuda melambangkan keagungan dan kejayaan.
Garuda memiliki paruh, sayap, ekor, dan cakar yang melambangkan kekuatan dan tenaga pembangunan.
Jumlah bulu Garuda Pancasila melambangkan hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 :
17 helai bulu pada masing-masing sayap
8 helai bulu pada ekor
19 helai bulu di bawah perisai atau pada pangkal ekor
45 helai bulu di leher
Perisai
Perisai adalah tameng yang telah lama dikenal dalam kebudayaan dan peradaban Indonesia sebagai bagian senjata yang melambangkan perjuangan, pertahanan, dan perlindungan diri untuk mencapai tujuan.
Di tengah-tengah perisai terdapat sebuah garis hitam tebal yang melukiskan garis khatulistiwa yang menggambarkan lokasi Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu negara tropis yang dilintasi garis khatulistiwa membentang dari timur ke barat.
Warna dasar pada ruang perisai adalah warna bendera kebangsaan Indonesia "merah-putih". Sedangkan pada bagian tengahnya berwarna dasar hitam.
Pada perisai terdapat lima buah ruang yang mewujudkan dasar negara pancasila.

Pengaturan lambang pada ruang perisai adalah sebagai berikut :
1.            Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa dilambangkan dengan cahaya di bagian tengah perisai berbentuk bintang yang bersudut lima berlatar hitam
2.            Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dilambangkan dengan tali rantai bermata bulatan dan persegi di bagian kiri bawah perisai berlatar merah
3.            Sila Ketiga: Persatuan Indonesia dilambangkan dengan pohon beringin di bagian kiri atas perisai berlatar putih
4.            Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan dilambangkan dengan kepala banteng di bagian kanan atas perisai berlatar merah
5.            Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia dilambangkan dengan kapas dan padi di bagian kanan bawah perisai berlatar putih.
Pita Bertuliskan Semboyan Bhinneka Tunggal Ika
Kedua cakar Garuda Pancasila mencengkeram sehelai pita putih bertuliskan "Bhinneka Tunggal Ika" berwarna hitam.
Semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah kutipan dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular. Kata "bhinneka" berarti beraneka ragam atau berbeda-beda, kata "tunggal" berarti satu, kata "ika" berarti itu. Secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan "Beraneka Satu Itu", yang bermakna meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya tetap adalah satu kesatuan, bahwa di antara pusparagam bangsa Indonesia adalah satu kesatuan. Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan.


Share:

Rabu, 06 Januari 2016

MONUMEN BERSEJARAH

MONUMEN BERSEJARAH YANG AKAN MEMBANGKITKAN SEMANGAT JUANG "BANI NUSANTARA" MENUJU "INDONESIA MERCU-SUAR DUNIA"
CANDI-CANDI/SANDI-SANDI peninggalan AGAMA BUDDHA di NUSANTARA kebanyakan terdapat di JAWA dan SUMATERA, antara lain:
CANDI BATUJAYA, stupa bata di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Diduga mulai dibangun pada abad ke-4 M, Satu bangunan BUDDHA tertua di NUSANTARA.
CANDI KALASAN atau Tarabhavanam, candi ini didirikan oleh Rakai Panangkaran pada tahun 778 M untuk memuja Dewi Tara. CANDI ini terletak di Yogyakarta.
CANDI SARI, biara bertingkat dua yang terkait dengan CANDI KALASAN.
CANDI SEWU atau Prasada Vajrasana Manjusrigrha, CANDI ini terletak di utara dari CANDI PRAMBANAN dan menurut Prasasti Manjusrigrha dibangun sekitar tahun 792 M, dan dipersembahkan untuk memuliakan bodhisatwa Manjusri.
CANDI MENDUT, terletak pada satu garis lurus ke arah timur dari CANDI BOROBUDUR. Di dalamnya terdapat tiga arca batu berukuran 3 meter yaitu BUDDHA Wairocana diapit bodhisatwa Awalokiteswara dan Wajrapani.
CANDI PAWON, CANDI ini juga terletak pada garis lurus arah timur antara CANDI BOROBUDUR dan CANDI MENDUT.
CANDI BOROBUDUR, CANDI ini merupakan CANDI BUDDHA terbesar di DUNIA. CANDI BOROBUDUR dibangun oleh raja-raja Wangsa SYAILENDRA pada abad ke-9 M dan bangunan candi terdiri atas sepuluh tingkat. CANDI BOROBUDUR terletak di Kabupaten Magelang, JAWA-TENGAH.
CANDI PLAOSAN, CANDI ini terdiri atas dua CANDI INDUK KEMBAR, terletak di arah timur CANDI SEWU.
CANDI SOJIWAN, CANDI BUDDHA ini dikaitkan dengan tokoh Rakryan Sanjiwana atau Sri Kahulunnan Pramodhawardhani. Pada bagian kakinya terukir kisah fabel Jataka.
CANDI BANYUNIBO, CANDI BUDDHA terletak dekat kompleks purbakala RATU BOKO.
CANDI MUARO JAMBI, kelompok CANDI BUDDHA dari bata merah ini terletak di tepi utara sungai Batanghari dekat muara, Kabupaten MUARO JAMBI, terkait dengan Kerajaan MELAYU di JAMBI.
CANDI MUARA TAKUS, CANDI ini terletak di Kabupaten Kampar, Riau.
CANDI BAHAL di dekat Padang Sidempuan, Sumatera Utara merupakan bangunan bercorak BUDDHA.
CANDI SUMBERAWAN, stupa ini terletak di Kabupaten Malang, JAWA-TIMUR, terkait kerajaan SINGHASARI.
CANDI BRAHU, CANDI dari bahan bata merah di Situs Trowulan, JAWA-TIMUR. Terkait kerajaan MAJAPAHIT
CANDI JABUNG, CANDI BUDDHA berbahan bata merah ini juga terkait kerajaan Majapahit. Terletak dekat Probolinggo, JAWA-TIMUR.
SALAMUN QOULAM MIR ROBBI ROHIIM

Share:

Senin, 07 Desember 2015

Hubungan CINTA TANAH AIR dengan IMAN

Hubungan CINTA TANAH AIR dengan IMAN
Iman adalah pangkal pokok ajaran Islam.. Iman berhubungan dg syukur dan.. Cinta tanah air berhubungan dg syukur..
QS. Luqman ayat 14 :
"Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada Orang Tuamu.
QS. an-Nisa' ayat 36 :
"Dan beribadahlah kamu kepada Alloh dan janganlah kamu syirik kepadaNya akan sesuatu, dan berbuat baiklai kepada Ibu Bapak.
Qs. al-Ankabut ayat 8 :
"Dan kami berwasiat kpd manusia supaya BERBUAT BAIK KPD ORANG TUANYA.
Rosululloh bersabda :
"Jagalah dirimu dari bumi, maka sesungguhnya BUMI ITU IBUMU (keterangan dari sahabat Robi'ah dalam Kitab Jamiush Shoghir jilid 2 bab huruf Ta' halaman 222 )
Qs. an-Najm ayat 32 :
"Dia adalah lebih mengetahui kepadamu, ketika kamu DI TUMBUHKAN DARI BUMI dan ketika KAMU WUJUD JANIN DI DALAM PERUT IBUMU.
Point dari ayat2 Al-Quran dan Hadits di atas manusia punya 2 (dua) Ibu yaitu :
1. Ibu yg mengandung
2. Ibu Bumi/ Ibu Pertiwi
CINTA TANAH AIR berarti BERSYUKUR atas wujud kejadian manusia yg berasal dari SARI PATI TANAH DAN AIR
CINTA TANAH AIR berarti dan menjaga IBU BUMI KITA/ IBU PERTIWI/ TANAH AIR TEMPAT KITA LAHIR/ IBU BUMI
CINTA TANAH AIR juga berarti syukur kepada asal kejadian diri sendiri yg berasal dari tanah dan air (THIN)
Cinta ibu bumi/ ibu pertiwi pastinya kudu di WUJUDkan dgn TIDAK MERUSAK BUMI, TIDAK MEMBUAT KEJAHATAN DI ATAS BUMI, DAN MENJAGA IBU BUMI DARI ORANG2 YG AKAN MERUSAKNYA.. SEMOGA.. SEMOGA DAN SEMOGA.





Share:

Minggu, 10 Agustus 2014

Gambar pengibaran Sang Saka Merah Putih



Share:

Hubbul Wathon Minal Iman (Cinta tanah air bagian dari iman)

Hubbul Wathon Minal Iman (Cinta tanah air bagian dari iman)

Keajaiban Hubbul Wathon Minal Iman
Hubbul Wathon Minal Iman, Hadist yang Ajaib
Dalam buku“Intan tertabur” susunan Jalaluddin Syayuti Mesir,terkutib sabda Rosululloh SAWt tentang “Hubbul Wathon Minal Iman”. Lalu seorang tokoh mengomentari “maknanya shoheh dan
ajaib”.
Terinspirasi oleh hadist tersebut kemudia kami merenungkan betapa memang betul HubbulWathon Minal Iman atau yang artinya “Cinta Tanah Air Bagian Dari Iman” sungguh
menakjubkan keajaibannya di tanah air Indonesia.
DiIndonesia ini ada sebuah danau maknawi maul hayat yang airnya kilau-kemilau sejuk, hidup menghidupkan dan di dalamnya mengandung permata maknawi
bagai zamrut, berlian yang tak ternilai harganya. Jika “diminum dan untuk mandi” jiwa-jiwa bangsa ini maka saya yakin Indonesia akan menjadi bangsa yang “hidup segar dan sehat”. Danau
maul hayat itu bersumber dari seluruh tokoh terbaik Indonesia dengan berbagai agama dan aliran yang berjiwa “Cinta Tanah Air Bagian Dari Iman”.
Wujud danau itu adalah pembukaan UUD 45. Sehelai kertas itu mengandung makna seperti lautan tak bertepi, ada permata keimanan, permata Berkat, Rohmat, akhlaq, aqidah, dan cita_cita luhur yang nilainya lebih baik dari 350 tahun; “saat yang berbahagia dengan selamat sentausa”.
Tetapi sayang danau itu kini telah tertimbun oleh ”lumpur” sifat-sifat yang bertentangan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Hal inisudah diamanatkan oleh pendiri negara bahwa itulah hakekat penjajahan.
Karenanya kini danau itu harus kita bersihkan, sebab jika tidak,semuanya akan macet.
“Maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan perikeadilan”.


Hubbul Wathon Minal Iman, Jalan mencapai Negara Adil Makmur
Kitab Alquran, kitab Weda, kitab Tripitaka, Bibel, dan seluruh undang-undang di dunia ini tidak memiliki tangan dan kaki.
Artinya aturan itu tidak bisa berbuat sendiri, tidak bisa berjalan sendiri, dan manusialah yang harus menjalankannya. Jika tidak ada yang menjalankannya maka hilanglah manfaatnya.
Jika danau maknawi itu ”diminum” melalui pendidikan dan masuk dalam jiwa bangsa, saya yakin Indonesia akan selamat. Karena disitu (danau maknawi-red) sistemnya persis sistem syukur, dan sistem syukur persis sudah diatur dalam UUD ’45.
Adapun syukur adalah jalan mencapai “Baldatun thoyyibatun.” bersyukurlah kamu, negara akan menjadi negara thoyyibah.

Hakekat syukur adalah mengamal kan tiga buah titik yang ada di dalam huruf “syin”.

Titik Pertama, ”lmun.” Artinya mengetahui sumber nikmat, mengetahui wujudnya nikmat, dan mengetahui untuk apa nikmat di berikan.

Titik Kedua, “Farhun”:Artinya gembira karena mengetahui sumber nikmat yakni Alloh, gembira karena mengetahui wujud nikmat, dan gembira karena mengetahui tujuan nikmat itu di berikan.

Titik Ketiga adalah “Amalun”. Maksudnya mengelola nikmat menurut ridho Alloh Ta’ala.

Diantara nikmat besar yang telah diterima bangsa Indonesia adalah nikmat berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). NKRI tidak akan ada jika tidak ada kemerdekaan
Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Pun kemerdekaan tidak akan mungkin diperoleh jika tidak ada pertolongan Alloh
“Atas Berkat Rohmat Alloh Yang Maha Kuasa dan dengan di dorongkan oleh keinginan luhur maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaanya”.
Sebab, apa mungkin keadaan compang-camping saat itu mampu menghadapi raksasa putih (penajajah Belanda _red) dan raksasa kuning (penjajah Jepang).
Mustahil menurut perhitungan akal, tapi kenyataannya kemerdekaan terjadi.
Oleh sebab itu pendahulu negeri ini menyadari tanpa pertolongan Alloh tak mungkin Indonesia bisa merdeka.
Peristiwa ajaib lain yang sangat menakjubkan dan bersumber dari jiwa Hubbul Wathon Minal Iman (Cinta Tanah Air Bagian Dari Iman)
juga terjadidi sebuah gedung no 106 gg Kenari jalan Kramat Raya tahun 1928 di bulan 10 pada tanggal 28.
Peristiwa itu adalah Sumpah Pemuda dan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.
Dirumah no 106 (1 di tambah 6= tujuh) ini menimbulkan 7 keajaiban. Keajaiban ini antara lain ajaibnya nama,ajaibnya penyaksian, ajaibnya para pelakunya, ajaib obyeknya, ajaib
kebenaannya, ajaib latar belakangnya, dan ajaib latar mukanya.
Tentang ”ajaibnya penyaksian”. Saat waktu itu putra-putri Indonesia berikrar tentang ”satu nusa” yang disaksikan oleh tahun 19(1+ 9 = 10).
Angka sepuluh jika dijumlah sama dengan satu (1 + 0 = 1 ), berati ”satu nusa”. Kemudian ikrar ”satu bangsa”,disaksikan oleh tahun 28 (2+ 8 = 10).
Jumlah sepuluh sama dengan”satu bangsa”. Lalu ikrar ”satu bahasa”, disaksikan oleh bulan 10. Angka sepuluh disini berarti ”satu bahasa”.
Jadi ikrar ”satu nusa, satu bangsa , dan satu bahasa”pada tanggal 28 itu sebagai penyaksian satunya negara Republik Indonesia yang ”disingkat” pada nama Gang tempat pelaksanaan acara
yakni ”Kenari ; Kesatuan Negara Republik Indonesia”. Sedang jalan Kramat Raya Kramat berarti”menuju kemulyaan yang besar”.

Padahal waktu itu para pemuda yang berikrar usianya sekitar 20-25 tahun, tapi mereka memiliki keberanian luar biasa.
Keberanian lintas suku, berani lintas agama, dan berani mendobrak berhala imperialisme.
Dan berselang 17 tahun kemudian kemerdekaan bangsa Indonesia tercapai.
Jadi ada benang halus antara Sumpah Pemuda dan Sumpah Palapa.
Peringatan yang keliru Pada tanggal 17 Agustus saya pergi ke Jakarta. Waktu saya ke masjid Istiqlal disitu tertulis
“Dirgahayu Kemerdekaan RI”. Begitu pula saat ke Taman Mini,dari Surabaya hingga Jakarta semua tertulis sama “Dirgahayu Kemerdekaan RI”. Lantas jika dipikir, apakah yang dijajah
selama 350 tahun itu Republik Indonseia ataukah bangsa Indonesia?

Didalam teks proklamasi tertulis “Kami bangsa Indonesia” bukan ”Kami Republik Indonesia. Juga tertulis ”Atas nama bangsa Indonesia” bukan ”atas nama Republik Indonesia”. Juga tertulis
”Sukarno_Hatta” bukan ”Presiden Sukarno”.
Demikian juga dalam pembukaan ”Bahwa Kemerdekaan itu hak segala bangsa” bukan ”hak epublik Indonesia”. Tapi mengapa kemudian yang ditemui adalah tulisan ”Kemerdekaan RI”?.
Begitu pula seandainya pada tanggal 17 Agustus Negara Republik Indonesia sudah berdiri,berdiri di atas dasar apa?
Jika didirikan atas dasar Pancasila, nyatanya saat itu Pancasila belum menjadi dasar negara. Sebab saat itu sila ”Ketuhanan”
masih koma yakni ”Ketuhanan, dengan menjalankan syariat syariat Islam bagi pemeluk pelemuknya.
Jadi belum final.
Baru pada 18 Agustus menjelang sidang PPKI,dr. Hatta, KH Wahid Hasyid, Kihadi Kusumo. Mr Hasan, Kasman Singodimedjo melakukan rapat kilat mengenai 7 kalimat pada sila kesatu
Pancasila.
Agar dapat menjadi kalimat titik temu, maka digantilah dengan tiga kalimat “Yang Maha Esa”. Ini baru final !
Apalagi kalimat ”dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk2 nya” nantinya dapat berarti yang mewajibkan, zakat,puasa, haji adalah negara, bukan Alloh swt.
Apa hal ini nggak syirik?
Alhamdulillah, dengan rohmat besar ini selamatlah negeri ini dari perpecahan. ”Ketuhanan Yang Maha Esa” itulah kalimat titik temu bagi seluruh agama yang ada di Indonesia.
Kalimat titik temu itu juga sudah diterangkan dalan AlQur’an, “Ya ahli kitabi ta’alau sawain bainawabai nahum”“Wahai ahli kitab marilah kita pada satu kalimat yang sama titik temu”.
Alhamdulillah di Indonesia ini ada kalimat titik temu, sehingga ketuhanan itu menjadi dasar negara yang paling utama.
Seperti juga tercantumi bab 11 pasal 29 ayat no 1.” Negara berdasar Atas Ketuhanan Yang Maha Esa.

Jadi di Indonesia ini bukan rakyatnya saja yang berketuhanan tapi negaranya berkeTuhanan Yang Maha Esa.
Satu_satunya negara di dunia yang menggunakannya hanya Indonesa.
Karenanya kita harus bersyukur kepada Alloh, syukur kepada pendahulu kita.

Rosululloh bersabda “Man Lam Yaskurinnas Lam Yaskurilah”Barang siapa tidak syukur kepada sesama manusia tidak syukur kepada Allah”.
Seandainya tiga kalimat diatas tidak diganti mungkin Indonesia akan terpecah.
Walaupun akhir-akhir ini nampak ada usaha untuk mengembalikan”Ketuhanan yang dikoma” lagi.
Jadi perlu dipikir sungguh_sungguh tentang hal yang sudah final ini.
Yang penting sekarang akar-akar identitas jati diri diperkuat.
Sehingga meski terjadi globalisasi,asal akarnya kuat maka tidak akan terlibas.
Sebaliknya kalau akar identitas Indonesia ini tidak diperkuat maka beberapa puluh tahun lagi Indonesia tinggal nama, terlibas oleh globalisasi.
Ini yang kami kawatirkan !*
Diringkas dari : Sambutan Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah pada acara
Pembukaan Seminar Cinta
Tanah Air 1
-
2 Agustus 2007 di ISLAMIC CENTER Surabaya

 





Share:

Translate